Musibah atau bencana di bumi sebenarnya merupakan pelajaran agar
manusia
dapat menyadari kesalahannya dan kembali kepada jalan Tuhan. Namanya
saja
kembali kepada-Nya, maka jalan yang harus ditempuh pun jalan-Nya yang
disebut shirâth al-mustaqîm, jalan lurus. Yaitu, jalan untuk
hamemayu
hayuning bawana dan tidak menghambakan diri kepada yang selain-Nya.
Perhatikan QS al-Rûm [30]: 41 – 45 sebagai berikut.

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia.
Allah
bermaksud untuk membuat mereka itu merasakan sebagian akibat perbuatan
mereka agar mereka dapat kembali (kepada jalan-Nya).

Katakanlah: “Lakukan perjalanan di bumi dan perhatikan bagaimana akibat
perbuatan orang-orang sebelummu. Sebagian besar mereka itu merupakan
orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Oleh karena itu, hadapkanlah dirimu kepada agama yang lurus sebelum
datangnya hari dari Allah yang tidak dapat ditolak. Pada hari itu
mereka
terpisah-pisah.

Barangsiapa yang kafir maka ia sendiri yang menanggung kekafirannya,
dan
bagi yang beramal saleh maka buah kebaikannya untuk dirinya sendiri.

Allah melimpahkan karunia-Nya kepada orang-orang yang beriman dan
beramal
saleh. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang
mengingkari-Nya.

Pertama, ketika ayat ini diturunkan, daratan dan laut telah mengalami
kerusakan. Apalagi sekarang! Dan, dinyatakan dengan tegas bahwa
kerusa-kan
itu akibat perbuatan manusia. Bukan disebabkan oleh perilaku hewan.
Artinya, potensi kerusakan itu berasal dari manusia. Ya, akibat ulah
manusia rusaklah daratan dan laut. Ternyata, kerusakan di darat dan
laut
itu dibiarkan oleh Allah agar manusia (yang melakukan kerusakan itu)
merasakan seba-gian dari akibat perbuatannya. Untuk apa? Agar yang
pernah
melakukan kerusakan itu mendapat pelajaran untuk kembali kepada jalan
yang
benar. Ya, kembali kepada jalan-Nya.

Jadi, yang merasakan akibat perbuatannya itu ya yang pernah hidup pada
masa
lampau dan berbuat kerusakan. Bukan orang yang pertama kali dilahirkan
di
bumi ini. Bukankah Tuhan telah menyatakan bahwa Dia tidak merugikan
manusia
sedikit pun? Tidak mungkin manusia yang tidak berbuat kesalahan
dikenakan
azab. Dan, karena kasih-sayang Tuhan pula manusia yang dihidupkan lagi
itu
merasakan sebagian saja dari akibat perbuatannya. Manusia tidak
merasakan
seluruh akibat perbuatan buruknya. Hal semacam inilah yang disebutkan
pada
ayat lain bahwa Tuhan itu memaafkan sebagian besar kesalahan manusia.

Kedua, lagi-lagi kita diperintah Tuhan untuk melakukan perjalanan di
muka
bumi ini. Tapi, pada ayat ini kita diperintah untuk memperhatikan
akibat
perbuatan buruk orang-orang yang hidup pada masa lalu. Apa kata ayat
tersebut? Banyaknya kerusakan di darat dan laut itu ternyata dilakukan
oleh
orang-orang musyrik. Orang-orang yang menyekutukan Tuhan. Dus, orang
yang
menyekutukan Tuhan itu adalah orang yang membuat kerusakan di bumi ini.
Jelas kan, bahwa mereka bukanlah orang yang beribadah di depan patung?

Jelas, bahwa kemusyrikan itu lebih terkait dengan amal perbuatan
manusia.
Jika amalan itu merusak bumi, maka itu tindakan syirik. Jika perusakan
bumi
itu merupakan perilaku seseorang, maka orang itu disebut sebagai orang
musyrik alias menyekutukan Tuhan. Agar tidak terjerumus ke jurang
kemusyrikan manusia diperintah untuk menghadapkan dirinya kepada agama,
jalan hidup, yang lurus. Yaitu, jalan hidup yang tidak menimbulkan
kerusakan dan merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Jalan hidup
yang
demikian inilah yang disebut “islam” (sebagai generik). Dalam kehidupan
aktual, islam yang generik ini bisa disebut Islam, Yahudi, Kristen,
Hindu,
Buddha, dan lain-lainnya.

Ketiga, manusia harus berusaha berada di jalan yang lurus. Di tempat
lain
disebut sebagai orang yang bertakwa. Usaha ini harus ditempuh sebelum
datangnya hari dari Allah yang disebut sebagai “hari yang tidak dapat
ditolak”. Hari apa gerangan? Itulah hari kematian dan sekaligus
kebangkitan
seseorang. Karena dalam satu hari orang yang mati itu banyak, maka yang
dibangkitkan pun banyak. Di mana dibangkitkan? Ya, di bumi ini! Lihat
kembali QS 7:25.

Manusia dibangkitkan melalui kelahiran melalui ibunya sendiri-sendiri.
Dalam ayat mereka disebut menjadi terpisah-pisah. Dan, disebutkan pada
ayat
berikutnya bahwa mereka yang kafir ya akan menanggung perbuatan
kekafirannya. Yaitu, dilahirkan sebagai manusia yang sengsara.
Sedangkan
yang dahulunya berbuat amal saleh, ya akan dilahirkan di tempat yang
penuh
anugerah Tuhan.

Nah, sekarang perhatikan kata musyrik dan kafir. Identik kan? Kalau
yang
dirujuk itu sikap hidup, maka namanya musyrik. Tapi, kalau yang dirujuk
itu
keyakinan dan tindakannya yang mengingkari kebenaran, maka namanya
kafir.
Jadi, kafir itu tak ada kaitannya dengan agama yang dipeluk. Agama apa
saja
yang dipeluknya, kalau ia mengingkari kebenaran atau melakukan
kerusakan
maka ia termasuk orang kafir!

Keempat, Allah tidak mencintai orang-orang yang ingkar. Perhatikan
pernyataan “tidak mencintai”, lâ yuhibbu! Ini tidak dapat
diterjemahkan
menjadi tidak menyukai. Berbeda! Allah tidak terlibat dalam suka dan
tidak
suka. Allah juga tidak terlibat dalam soal membenci atau tidak
membenci.
Allah itu bersifat mahabbah, mencintai hamba-Nya. Tetapi, kalau si
hamba
itu mengingkari-Nya, maka Dia tidak mencintainya.

Apa bedanya “tidak mencintainya” dengan “membenci”? Benci adalah
perasaan
tidak suka. Jadi, kalau Tuhan membenci berarti dalam diri Tuhan itu
terkandung perasaan tidak suka. Ini tentu saja berlawanan dengan
sifat-Nya
yang rahman dan rahim. Jelas, tidak mungkin terjadi sifat yang saling
berlawanan pada dirinya. Sifat Tuhan adalah Cinta. Maka, karena itu
para
ahli tasawuf menyebut Tuhan itu sendiri Cinta.

Cinta itu bukan suka! Cinta mengandung makna karunia. Artinya, sesuatu
yang
dicintai niscaya mendapat perhatian atau karunia dari yang mencintai.
Jadi,
kalau Tuhan mencintai seorang hamba, maka hamba itu akan mendapatkan
cucuran rahmat dan karunia dari-Nya. Misalnya, sang hamba yang dicintai
Tuhan itu akan mendapatkan perlindungan, pertolongan dan kenikmatan.
Lha,
kalau Tuhan “tidak mencintai” orang kafir, maka Dia membiarkan si kafir
itu
menerima akibat perbuatan-Nya.

Nah, apa yang diharapkan manusia? Tentu saja, rahmat-Nya. Kalau belum
dapat
melepaskan diri dari bumi ya perlindungan dan kenikmatan hidup di bumi.
Dengan perlindungan-Nya itu seorang manusia dapat terus-menerus
berusaha di
jalan yang benar.

Dalil-dalil Reinkarnasi
Umat Islam merasa bahwa reinkarnasi itu tidak diajarkan dalam Islam.
Bahkan
pandangan tentang reinkarnasi dianggap bid’ah. Atau, pandangan sesat.
Hal
ini dapat dimengerti, karena reinkarnasi tidak dijelaskan secara
eksplisit
di dalam Alquran. Untuk dapat memahaminya kita harus benar-benar serius
dalam menelaah ayat-ayat Alquran maupun Hadis.

Mengapa reinkarnasi di dalam Alquran tidak dijelaskan secara eksplisit
dalam satu topik tersendiri? Karena, Alquran diwahyukan kepada Nabi
sesuai
dengan budaya Arab yang ada pada waktu itu. Dalam budaya Arab,
kehidupan di
akhirat saja diangap aneh. Kalau toh ada orang-orang Quraisy yang
menerima
pandangan tentang akhirat, sebenarnya itu merupakan pengaruh agama
Yahudi,
Nasrani dan Majusi.

Apa pandangan asli Arab tentang hidup sesudah mati? Tidak ada! Orang
Arab
pra-Islam berpandangan bahwa hidup ini hanya sekali saja. Hal ini
direkam
di beberapa ayat Alquran. Marilah kita baca dengan seksama rekaman
Alquran
terhadap kepercayaan orang-orang Arab pra-Islam.

6:29 – Dan, tentu mereka akan mengatakan: “Hidup hanyalah kehidupan
kita di
dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.”

23: 35-37 – “Apakah dia menjanjikan kepada kamu sekalian bahwa bila
kamu
telah mati, telah menjadi tanah dan tulang-belulang, kamu akan
dikeluarkan?
Jauh, jauh sekali (dari kebenaran), apa yang diancamkan kepadamu.
Kehidupam
kita itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan
kita hidup, dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.”

34:7 – “Dan orang-orang kafir berkata: ‘Maukah kamu kami tunjukkan
seorang
lelaki yang memberitakan kepadamu bahwa apabila badanmu telah hancur,
sesungguhnya kamu benar-benar akan dibangkitkan dalam ciptaan baru?'”

44:35 – “Tidak ada kematian selain kematian kami yang pertama. Dan kami
sekali-kali tidak dibangkitkan.”

Ayat-ayat tersebut sudah jelas menggambarkan kepercayaan yang ada pada
masyarakat Arab. Mereka itu tidak percaya bahwa kehidupan itu tidak
berakhir dengan kematian. Mereka meyakini bahwa kehidupan ini sekali
saja,
dan kematian merupakan akhir bagi segalanya. Makanya, mereka itu
hedonistis. Mereka itu hanya berusaha mencari kesenangan duniawi
semata.
Mereka tidak peduli bahwa kesenangan yang diusahakan itu merugikan
orang
lain atau tidak.

Mereka kaget luar biasa ketika Nabi Muhammad mengajarkan tentang
kehidupan
setelah kematian. Baru dinyatakan ada kehidupan baru sebagai ciptaan
baru
setelah mati, mereka itu sudah menolak. Apalagi kalau mereka itu
dijelaskan
secara gamblang bahwa kehidupan itu bisa berlanjut berkali-kali,
mungkin
nggak percayanya itu kuadrat.

Reinkarnasi itu ayat mutasyabihat. Ya, kelahiran kembali itu
diungkapkan
dalam Alquran secara tersamar. Ayat-ayatnya harus dipikirkan dan
direnungkan dalam-dalam. Kalau tidak dipikirkan masak-masak, pasti akan
terjerumus pada penerjemahan atau penafsiran yang menyimpang. Ayatnya
tidak
disampaikan secara berurutan atau sering diselipkan di berbagai topik
kehidupan. Makanya, kalau kita tidak jeli membacanya akan kecele.

16:70 – “Allah menciptakan kamu. Kemudian, Allah mewafatkan kamu
(mengakhiri hidupmu di bumi ini), dan di antara kamu ada yang
dikem-balikan
pada umur yang paling lemah, agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun
yang pernah diketahuinya. Sesunggunya Allah Maha Menge-tahui dan
Mahakuasa.”

16:77 – “Dan kepunyaan Allahlah segala yang gaib di langit maupun di
bumi.
Dan, tidaklah perintah kebangkitan itu selain sekejap mata atau lebih
cepat. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

16:78 – “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan
tidak
mengetahui sesuatu pun. Dan, Dia memberimu pendengaran, peng-lihatan
dan
fuad agar kamu dapat bersyukur.”

Pertama, pada umumnya orang yang hidup di bumi ini berakhir dengan
kematian. Tentu saja, ada yang benar-benar telah wafat, alias telah
sempurna hidupnya, sehingga tidak dilahirkan kembali di bumi ini. Tapi,
kebanyakan manusia itu dilahirkan kembali. Dalam bahasa ayat di atas
dinyatakan sebagai “dikembalikan pada umur yang paling lemah”. Umumnya,
kalimat ardzal al-‘umur pada ayat tersebut diartikan “tua-renta”.
Sedangkan
kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun yang pernah diketahuinya”
diartikan
dengan “pikun” atau pelupa karena sudah tua sekali.

Penerjemah biasanya tidak memahami bahasa Indonesia dengan benar.
Mereka
tidak menyadari bahwa “tua-renta” itu belum tentu lemah. Banyak orang
di
Indonesia ini yang umurnya sudah 80 tahun masih tampak lebih segar
daripada
yang berumur 40 tahun. Beberapa negarawan kita sudah berumur lebih dari
80
tahun, tapi masih berbicara tentang politik dan situasi negara kita
dewasa
ini secara kritis. Maka, jelas kalimat “dikembalikan pada umur yang
paling
lemah” itu tidak berarti tua-renta atau lanjut usia.

Kedua, kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun apa yang pernah dike-tahui
sebelumnya” diartikan dengan “pikun”. Ini salah besar! Orang pikun itu
pelupa. Mudah lupa terhadap apa yang diketahui atau dikerjakannya.
Tapi,
pikun itu masih ada yang diingat. Bukan tidak ingat sama sekali apa
yang
pernah diketahui, atau lost memory. Dan, pikun itu sifat yang ada pada
orang tua yang telah lanjut usia di mana saja. Namun, tidak setiap
orang
yang lanjut usia itu pikun. Jadi, tidak mungkin bangsa Arab tidak punya
khazanah untuk kata pikun. Dalam bahasa Arab, pikun itu mukharraf.

Jadi, kondisi tua-renta dan pikun itu tidak merupakan pemetaan
satu-satu.
Artinya, ada orang yang tua-renta tidak pikun, dan ada orang pikun yang
masih muda usianya. Makanya, harus kita cari ayat-ayat yang menya-takan
“tidak tahu sesuatu pun apa yang pernah diketahuinya” itu dalam kaitan
yang
lain. Ternyata, pada ayat 78 disebutkan bahwa kalimat tersebut terkait
dengan pernyataan “dikeluarkan dari perut ibumu”. Artinya, “tidak tahu
sesuatu pun” itu dimiliki oleh bayi yang baru dilahirkan. Dan, di ayat
sebelumnya dijelaskan bahwa kondisi ini disebut kebangkitan! Dus,
kebangkitan seseorang itu ada di bumi ini, yaitu keluar dari perut ibu.

Ya…, kebangkitan adalah kelahiran. Dan, ini cocok dengan makna
bangkit itu
sendiri. Yaitu, bangkit sebagai manusia kembali. Dengan adanya
kebangkitan
atau kelahiran itu, maka orang yang telah mati, dan tulang-belulangnya
telah hancur, akan hidup kembali sebagai ciptaan yang baru yang
disangkal
oleh orang-orang Arab pra-Islam.

Maka, kiamat dalam pengertian kita selama ini sebenarnya kelahiran
kembali.
Inilah yang disebut reinkarnasi. Dan, kehidupan dunia yang kita alami
saat
ini adalah akhirat bagi kehidupan masa lalu. Siksa dan pahala yang
dialami
saat ini merupakan buah perbuatan pada kehidupan masa lalu. Namun Tuhan
itu
rahman dan rahim, sehingga manusia dapat melanjutkan perjalanannya
untuk
kembali kepada-Nya.

Jika pada kedua ayat tersebut masih samar-samar dan memerlukan kejelian
dalam membacanya, maka pada Surah Yâ Sîn [36]: 68 yang biasa
dibaca oleh
orang Islam pada berbagai kesempatan, hal reinkarnasi itu lebih jelas
lagi.
Bunyi terjemahan ayatnya, “Dan barangsiapa yang Kami panja-ngkan
hidupnya
niscaya Kami kembalikan pada kejadiannya. Apakah mereka itu tidak
memikirkannya?”
Perhatikan! Pemanjangan hidupnya di bumi ini niscaya diikuti dengan
kembalinya pada kejadiannya. Yaitu, dilahirkan sebagai bayi! Tapi,
meski
sudah terang-benderang maknanya, hampir penerjemah Alquran standar
memberikan catatan kaki bahwa itu dikembalikan menjadi lemah dan kurang
akal. Jelas, ini orang yang ngawur! Mana ada panjang umur selalu
diikuti
dengan lemah dan kurang akal? Sepikun-pikunnya atau kurang akalnya
orang
tua, masih lebih cerdas daripada bayi. Sebagaimana sudah dijelaskan
bahwa
orang yang telah lanjut usianya belum tentu pikun. Beberapa kepala
negara
malah masih aktif memimpin, meski umurnya sudah di atas 80 tahun.
Tetapi,
banyak orang yang baru berusia 60 tahun sudah menunjukkan gejala
kepikunan.

Apa arti dikembalikan pada “kejadian”. Bukankah kejadian manusia itu
berawal dari seorang bayi? Bagaimana mungkin mereka memahami kejadian
sebagi lemah dan kurang akal? Rupanya, mereka itu perlu dididik
biologi,
agar mereka memahami arti kejadian manusia hingga wafatnya. Mereka
perlu
diajari membaca kamus dan struktur kalimat bahasa Indonesia. Untuk apa?
Agar kalau ada kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun” tidak
diterjemahkan
pikun. Bahasa untuk pikun itu ada di setiap bangsa. Karena, pikun
merupakan
fenomena yang menimpa orang tua atau lanjut usia.

Bahkan karena sesuatu gangguan, ada orang-orang yang kehilangan ingatan
terhadap apa yang pernah diketahuinya. Mereka ini tidak terkait dengan
batasan usia. Tapi, hal ini disebabkan oleh gangguan pada saraf
otaknya.
Ini kasus! Sehingga, hal semacam ini tidak dimasukkan dalam ayat. Maka,
kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun” harus dicarikan kaitannya pada
ayat
yang lain. Ini yang namanya menafsirkan ayat Alquran dengan ayat
Alquran
lainnya. Inilah penafsiran yang paling valid!

Kemudian, kalau kita melihat Surah Yâ Sîn di atas, ayat 68 itu
ditutup
dengan kalimat “apakah mereka tidak memikirkan”. Kalau kita dalam hidup
sehari-hari ini menjumpai sesuatu yang lazim, maka kita tak perlu
memikirkan maknanya. Kita baru memikirkan sesuatu jika kita ingin
mengetahui makna di balik kejadian yang tampak itu.

Reinkarnasi dalam Hadis. Selain ayat-ayat Alquran, indikasi adanya
reinkarnasi itu dapat kita temukan dalam beberapa Hadis. Di bawah ini
saya
cuplikkan beberapa Hadis yang ada kaitannya dengan reinkarnasi.

“Demi Tuhan yang jiwaku dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang gugur
di
jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, kemudian
dihidupkan
lagi lalu gugur lagi, niscaya ia tidak dapat masuk surga sebelum
melunasi
hutangnya.” (H.R. Nasai)

“Orang yang berhutang itu dibelenggu dalam kuburnya, tiada yang dapat
melepaskannya selain ia membayar hutangnya.” (H.R. Dailami)

“Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak dapat ditutupi oleh
salat,
puasa, haji dan umrah. Yang dapat menutupinya hanyalah duka-cita
(kesulitan) dalam hidup mencari rezeki.” (H.R. Ibnu Asakir)

Pertama, meskipun gugur berkali-kali tapi bilamana belum melunasi
hutangnya, ia tak akan masuk surga. Perhatikan, kata gugur berkali-kali
dan
hutang. Secara sederhana umat Islam menerjemahkan hutang itu dalam arti
hutang harta-benda. Tidak sepenuhnya benar! Yang jelas, hutang
harta-benda
itu bagian dari hutang perbuatan (karma).

Dan lagi, pada kalimat di atas tidak dinyatakan “kecuali jika ada
hutang,
keluarganya melunasinya”. Kalimat ini tidak ada. Yang ada, justru
menegaskan bahwa yang gugur itulah yang melunasinya. Jadi, hutang itu
tidak
dapat dilunasi orang lain. Seseorang tidak menanggung beban atau dosa
orang
lain. Setiap orang akan menanggung dosanya sendiri. Itulah yang
dijelaskan
di berbagai ayat Alquran.

Kedua, hidup susah dalam mencari rezeki adalah cara untuk menutupi
dosa-dosa. Coba, dosa darimana? Kalau hidup sekarang ini merupakan
hidup
yang pertama kali, maka tidak adil kiranya bila ada orang yang
dilahirkan
menderita di kolong jembatan. Padahal, Tuhan sudah menyatakan dengan
tegas
bahwa Dia tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.

Bayak sekali di dunia ini orang yang hidupnya menderita semenjak
dilahirkan
di bumi ini. Menurut Hadis di atas, penderitaan itu sebenarnya untuk
menutupi dosa-dosanya. Dan, dosa-dosa itu sendiri tidak dapat ditutupi
oleh
ibadah formal. Dosa yang tidak bisa dihapus dengan cara salat, puasa,
umrah
dan haji. Ini tentu saja dosa yang berat. Sehingga perbuatan ibadahnya
pun
tak bisa menghapusnya. Dosanya hanya hapus bila dia dilahirkan kembali
di
bumi ini sebagai orang yang hidup menderita!